Showing posts with label pramoedya ananta toer. Show all posts
Showing posts with label pramoedya ananta toer. Show all posts
By: Pramoedya Ananta Toer

Almanak Seni 1957

Sekarang tiba gilirannja: dia djuga mau pergi ke Djakarta.

Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin djadi wargakota Djakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan tjita itu akan timbul djuga. Engkau di pedalaman terlampau banjak memandang ke Djakarta. Engkau bangunkan Djakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan jang tak terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanja. Kau kumpulkan tekat segumpil demi segumpil.

Ah, kawan, biarlah aku tjeritakan kau tentang Djakarta kita.

Tahun 1942 waktu untuk pertama kalinja aku indjak tanah ibukota ini, stasiun Gambir dikepung oleh del­man. Kini delman ini telah hilang dari pemandangan kota —hanja tudjubelas tahun kemudian! Betjak jang menggantikannja. Kuda-kuda diungsikan ke pinggiran kota. Dan kemudian: manusia-manusia mendjadi kuda dan sopirnja sekali: begini tidak ada ongkos pem­beli rumput! Inilah Djakarta. Demi uang manusia se­dia djadi kuda. Tentu sadja kotamu punja betjak djuga tetapi sudah djadi adat daerah meniru kebobrokan ibu­kota.

Bukan salah manusia ini, kawan. Seperti engkau djuga, orang-orang ini mengumpulkan tekat segumpil demi segumpil­ perawan-perawan sawah, ladang dan pegunungan, buruh-buruh tani, petani-petani sendiri jang bidang tanahnja telah didih di dalam perasaannja, warga-warga dusun jang dibuat porak poranda oleh gerombolan, peladjar-peladjar jang hendak meneruskan peladjaran, djuga engkau sendiri —dan dengan penuh kepertjajaan akan keindahan nasib baik di ibukota.

Kemudian bila mereka sampai di Djakarta kita ini, perawan-perawan pedalaman jang datang kemari sekedar tjari makan, dia dapat makan, lupa tjari makan, dia kepingin kesenangan, dan tiap malam berderet di­ depan gedung tempat kerdjanja masing-masing. Pria tidak semudah itu mendapat pekerdjaan, dan achirnja mendjadi kuda. Beberapa bulan kemudian paha para pria ini mendjadi begitu penuh sesak dengan otot jang ter­lampau banjak dipaksa kerdja. Tiap minggu mereka menelan telur ajam mentah. Dan djalan raja memberinja kemerdekaan penuh. Bila datang bahaja ia lepas betja berdjalan sendirian, dan ia melompat ke kaki lima. Djuga tanggung djawab delman hilang di tangan kuda-kuda ini. Beberapa tahun kemudian ia ‘ngedjengkang’ di balenja karena djantungnja mendjadi besar, desakan darahnja meninggi: ia invalid —puluhan! ratusan ribu! kembali ke kampung sebagai sampah. Bila ada kekajaan, adalah kekajaan membual tentang kepele­siran. Tetapi untuk selama-lamanja ia telah mati, su­dah lama mati. Djumlah kurban ini banjak daripada kurban revolusi bakalnja.

Djadi engkaupun ingin djadi warga Djakarta!

Djadi engkaupun ingin djadi sebagian kegalauan ini.

Dari rumah masing-masing orang bertekat mentjari uang di Djakarta. Djuga orang-orang daerah jang kaja mengandung maksud: ke Djakarta —hamburkan uang­nja. Dan djuga badjingan-badjingan daerah: ke Dja­karta —menangguk duit. Demi duit ini pula Djakarta bangun. Sebenarnja sedjak masuknja kompeni ke Dja­karta, Djakarta hingga kini belum djuga merupakan kota, hanja kelompokan besar dusun. Hingga sekarang. Tidak ada tumbuh kebudajaan kota jang spesifik, semua dari daerah atau didatangkan dan diimport dari luar negeri: dansa, bioskop, pelesiran, minuman keras dan agama, berbagai matjam agama.

Aku lupa, bahwa kau datang hendak kemari untuk beladjar. Tetapi barangkali patut pula kau djadikan ke­nangan, pusat beladjar daerah kita adalah Djakarta. Tetapi sungguh aku sesalkan, bahwa Djakarta kita bu­kanlah pusat beladjar jang mampu menjebabkan para mahasiswa ini mendjadi perspektif kesardjanaan Indonesia di kemudian hari. Sisa-sisa intelektualisme karena gebukan balatentara Dai Nippon kini telah bangkit kembali dengan hebatnja. Titel akademi jang diperoleh tiap tahun beku dikantor-kantor, dan daerah­mu tetap gersang menginginkan bimbingan. Dan bimbingan itu masih tergantung-gantung djauh di ang­kasa biru. Semua orang asing, dengan warna politiknja masing-masing, jang memberi kauremah-remah dari­pada kekajaan kita terbaik jang diisapnja.

Aku tahu, engkau orang daerah, orang pedalaman memdewakan pemimpin-pemimpinmu, tetapi aku lebih dekat pada kenjataan ini. Aku tahu engkau berteriak­-teriak tentang perekonomian nasional, tetapi basis ke­hidupan jang didasarkan atas perdagangan eksport, bukan sadja typis negara agraria, djuga negara kolonial. Sepandjang sedjarah negara-negara petani mendjadi negeri djadjahan, dan tetap mendjadi negeri djadjahan.

Dan bukankah petani-petani daerahmu masih tetap hamba-hamba di djaman Madjapahit, Sriwidjaja atau Mataram? Siang kepunjaan radja, malam kepunjaan durdjana! Dan radja di djaman merdeka kita ini ada­lah naik-turunnja harga hasil pertaniannja sendiri. Se­dang durdjananja tetap djuga durdjana Madjapahit, Sriwidjaja dan Mataram jang dahulu: perampok, pen­tjuri, gerombolan, pembunuh, pembegal.

Djadi beginilah, kawan. Djakarta merupakan impian orang daerah. Semua ingin ke Djakarta. Tapi Djakarta sendiri hanja kelompokan besar dusun, bahkan bahasa perhubungan jang masak tidak punja. Anak-anak men­djadi terlampau tjepat masak, karena baji-baji, kanak­-kanak dan orangtuanja digiring ke dalam ruangan­-ruangan jang teramat sempit sehingga tiap waktu me­reka bergaul begitu rapat. Masalah orangtua tak ada jang tabu lagi bagi kanak-kanak. Kewibawaan orangtua men­djadi hilang, dan segi-segi jang baik daripada perhubungan antara orangtua dan anak dahulu, kini mendjadi tum­pul. Agama telah mendjadi gaja kehidupan, bukan perbentengan rohani jang terachir. Aku tjeritai kau, kemarin anakku jang paling amat besar enam umurnja, bertjerita: Orang-orang ini dibuat Tuhan. Tapi apakah randjang ini dibuat olehNja djuga? Ia pandangi aku. Waktu kutanjakan kepadanja bagajmana warna Tuhan: hitam ataukah merah? Ia mendjawab Putih! Ia pilih warna jang tidak mengandung interpretasi, tidak di­warnai oleh pretensi. Sebaliknja kehidupan Djakarta ini—dan barangkali patut benar ini kau ketahui: penuh-sesak dengan interpretasi dan pretensi ini. Di­ segala lapangan! Lebih mendjengkelkan daripada itu: tiap-tiap orang mau mendesakkan kepunjaannja masing-­masing kepada orang lain, kepada lingkungannja. Sungguh-sungguh tiada tertanggungkan. Barangkali kau pernah peladjari sedjarah kemerdekaan berpikir. Bila demikian halnja kau akan dikutuki tjelaka.

Tetapi djangan kaukira, bahwa kegalauan ini ber­arti mutlak. Barangkali adanja kegalauan ini hanjalah suatu salahharap daripadaku sebagai perseorangan. Aku seorang pengarang, dan pengarang di masa kita ini, terutama di ibukota kita, adalah sematjam kerbau jang salah mendarat di tanah tandus. Setidak-tidaknja kega­lauan ini memberi rahmat djuga bagi golongan-golongan terten­tu, terutama bagi para pedagang nasional, jakni jang berdjualbelikan kenasionalan tanah-airnja dan dirinja. Mungkin engkau tidak setudju. Tetapi barangkali lebih baik demikian. Sungguh lebih menjenangkan bagimu bila masih punja pegangan pada kepertjajaan akan kebaikan segala jang dimiliki oleh tanah-airmu dalam segala segi dan variasinja. Kami golongan pengarang, biasanja tiada lain daripada tenaga penentang, golongan opposisi jang tidak resmi. Resmi: pengarang. Tidak resmi: opposisi periuk terbaik! Dengan sendi­dirinja sadja begitu, karena kami bitjara dengan selu­ruh ada kami, kami hanja punja satu moral. Itu pula sebabnja, bila kami tewas, tewas setjara keseluruhan. Bukannja tewas di moral jang pertama, tetapi mendjadi tambun di moral jang keempat! mendjadi melengkung di moral jang ketiga!

Aku kira terlampau djauh lantaranku ini. Padamu aku mau bitjara tentang Djakarta kita.

Sekali waktu di suatu peristiwa, Omar pernah bitjara dengan sombongnja: Bakar semua chazanah, karena segalanja telah termaktub di dalam Qur’an! Permun­tjulan jang grandiues tapi tak punja kontour-kontour kenjataan ini adalah gambaran kedjiwaan Djakarta: rentjana-rentjana besar, galangan-galangan terbesar di Asia Tenggara, tugu terbesar di Asia, kemerosotan mo­ral terbesar! segala terbesar. Tapi tak ada sekrup, tak mur, tak ada ada drat, tak ada nipple, tak ada naaf, tak ada inden dan ring pada permesinan semua ini.

Sekali waktu disuatu peritiwa, Pascal mentjatat di­ dalam bukunja: Manusia hanja sebatang rumput, teta­pi rumput jang berakal budi. Dan rumput ini adalah golongan jang mempunjai kesadaran tanpa kekuasaan, terindjak dan termakan. Jang lahir, kering dan mati dengan diam-diam. Namun mendjadi permulaan dari pada kehidupan, seperti jang disaksikan oleh Schweit­zer, serta risalah Kan Ying Pien.

Berbagai matjam angkatan tjampur-baur mendjadi satu, seperti sambal jang menerbitkan satu rasa, tetapi dengan teropong masih djelas nampak perpisahan an­tara bagian satu dengan jang lain. Namun pentypean sematjam jang tegakkan oleh Remarque tidak memper­lihatkan diri.

Barangkali engkau keberatan dengan kata-kataku itu. Tetapi memang demikian. Tjobalah ikuti tulisan-tulisan angkatan demi angkatan. Angkatan jang muda mentja­tji jang tua, jang muda ditjatji oleh jang lebih muda. Tetapi, kata Ramadhan KH jang pernah aku dengar, angkatan muda ini bila diberi kesempatan, dia kehilangan segala proporsi dan lemih mendjadi badut lagi. Artinja badut di lingkungan badut. Tokoh-tokoh pemi­kiran mengetengahkan Wulan Purnomosidhi dan Ada­ tidaknja Tuhan, di dalam kekatjauan sosiologis, ekono­mis dan politis, kultural dan intertual! Apakah kita mesti ikut pukul kaleng untuk membuat segala ini men­djadi bertambah ramai? Sedang anak-anak murid ini telah demikian goiat dengan membanggakan pengeta­huannja tentang para tjabul dan ‘rakjat ketjil’ plus sa­duran Toto Sudarto Bahtiar Tjabul Terhormat karang­an Sartre? Plus Margaretta Gouthier saduran Hamka dari Alexander Dumas Jr. Hamka? ja Hamka.

Achirnja, seperti kata A.S. Dharta, orang-orang da­tang dan berkumpul ke Djakarta, mendjadi warga Dja­karta, untuk mempertjepatkan keruntuhan kelompokan besar dusun ini. Tambah banjak jang datang tambah tjepat lagi.

Selagi aku belum djadi penduduk Djakarta, dambaanku mungkin seperti kau punja. Impian jang indah, bajangan pada pembangunan hari depan. Diri masih pe­nuh diperlengkapi kekuatan, kemampuan dan kepertja­jaan diri. Barangkali bagimu segala itu lebih keras lagi. Karena di daerah bertiup angin: orang takkan djadi warganegara jang 100% sebelum melihat Djakarta de­ngan mata kepala sendiri.

Barangkali engkau akan bertanja kepadaku, mengapa tak djuga menjingkirkan diri dari Djakarta! Ah, kau. Golongan kami adalah sematjam kerbau jang mendarat di tanah tandus. Golongan kami reaksioner di lapangan penghidupan. Sekalipun tandusnja penghidupan golong­an kami, djustru Djakartalah jang bisa memberi, seka­lipun hanja remah-remah para pedagang nasional, atau petani pasar minggu. Tambah lama nasi jang sepiring harus dibagi dengan empat-lima anak-anaknja. Dan anak-anak ini akan mengalami masa kehilangan masa kanak-kanak, masa kanak-kanaknja sendiri. Kanak-kanak Djakarta jang tak punja lapangan bergerak, tak punja lapangan bermain, tak punja daerah perkem­bangan kedjiwaan, menjurus dari gang dan got, membunuh tiap marga-satwa jang tertangkap oleh matanja. Katak dan ketam dan belut dan burung mengalami lik­widasi, di Djakarta! Tetapi njamuk meradjalela, dan tjitjak dan sampah. Djuga mereka ini hidup di alam ketaksenangan. Taman-taman hanja di daerah Menteng dan perkampungan baru. Engkau tahu, djadi orang apa ka­nak-kanak sematjam ini djadinja di kemudian hari.

Engku tahu, ada pernah dibisikkan kepadaku: da­erah jang punja taman adalah lahir dan berkembang karena telah menghisap darah daerah jang tak punja taman. Tentu sadja bisikan ini konsekwensi daripada prinsip perdjuangan kelas. Barangkali engkau tak setu­dju, karena ini membawa-bawa politik atau pergeseran kemasjarakatan jang berwarna politik atau politik ekonomi. Mungkin djuga hanja suatu kedengkian jang tak sehat. Tapi apakah jang dapat kauharapkan dari suatu masjarakat dimana sebahagian besar warganja hidup dalam suasana tak senang, tak ada pegangan, tak ada kepertjajaan pada haridepan! Sedang para pedagang nasional djuga tak punja haridepan, karena kemanisan jang diperolehnja harikini diisapnja habis harikini pula, untuk dirinja sendiri tentu, atas nama kenaikan harga tentu, sehingga mereka mendjadi para turis di daerah kehidupannja sendiri.

Segala jang buruk berkembang-biak dengan mantiknja di Djakarta ini. Segi-segi kehidupan amatlah runtjing­nja dan melukai orang jang tersinggung olehnja. Tetapi wargakota jang sebelum proklamasi bersikap apatis ­— apatisnja seorang hamba — kini kulihat apatisnja orang merdeka dengan djiwa hambanja. Bukan penghinaan, sekalipun suatu peringatan itu kadang-kadang terasa

sebagai penghinaan. Di dalam kehidupan jang tidak menjenangkan apakah jang tak terasa sebagai penghi­naan! Dan tiap titik jang menjenangkan dianggap pudjian, atau setidak-tidaknja setjara subjektif: penga­kuan dari pihak luaran akan kesamaan martabat dengan orang atau bangsa jang memang telah merdeka dan tahu mempergunakan kemerdekaannja. Barangkali engkau menghendaki ketegasan utjapan ini. Baiklah aku tegaskan kepadamu: memang wargakota belum lagi 25% bertindak sebagai bangsa merdeka. Anarki ketjil­-ketjilan, sebagaimana mereka dahulu dilahirkan dalam lingkungan jang serba ketjil-ketjil pula: buang sam­pah digot! bandjir tiap hudjan akibatnja; pendudukan tanah orang lain jang disadari benar bukan tanahnja sendiri menurut segala hukum jang ada, sekalipun sah menurut hukum jang dikarang-karangnja sendiri: ketimpangan hak tanah adalah ketimpangan penghidupan, kehidupan dan kesedjahteraan sosial. Mengapa? Kare­na besok atau lusa tiap orang dapat didorong keluar dari rumah dan pekarangannja sendiri-sendiri. Kedjo­rokan dan kelalaian jang dengan langsung menudju ke pelanggaran ketertiban bersama. Dan djalan-djalan raja serta segala matjam djalanan umum mendjadi me­dan permainan Djibril mentjari mangsa. Djuga ini akibat hati orang tidak senang. Bawah sadarnja bilang: dia tak dilindungi hukum — dia, baik jang melanggar maupun jang dilanggar.

Nah demikianlah Djakarta kita, sekian tahun setelah merdeka.

Barangkali engkau mengagumi kaum tjerdik-pandai jang sering diagungkan namanja disurat-suratkabar. Hanja sedikit di antara mereka itu jang benar-benar bekerdja produktif-kreatif. Jang lain-lain terpaksa mem­populerkan diri agar tak tumbang dimedan penghidup­an! Apakah jang telah ditemukan oleh universitas Indonesia selama ini jang punja prestasi interna­sional! Di lapangan kepolitikan, apakah pantjasila telah melahirkan suatu kenjataan di mana engkau sadar di hatiketjilmu bahwa kau sudah harus merasa berterimakasih. Aku pernah menghitung, dan dalam sehari pada suatu hari jang tak terpilih, diutjapkan limabelas kali kata pantjasila itu baik melalui pers, radio, atau mulut orang. Sedjalan dengan tradisi pendjadjahan jang selalu dideritakan oleh rakjat kita, maka nampak pula garis-garis jang tegas dalam masa pendjadjahan priaji­-pedagang ini: orang membangun dari atas. Tanpa pondamen. Ah, kawan, kita mengulangi sedjarah ke­gagalan revolusi Perantjis.

Barangkali kau menjesalkan pandanganku jang pessimistis.

Akupun mengerti keberatanmu. Asal sadja kau tidak lupa: sekian tahun merdeka ini belum lagi bitjara apa-apa bagi mereka jang tewas dalam babak pertama revolusi kita. Kalau Anatole France bitjara tentang iblis-iblis jang haus akan darah di masa pemerintahan pergulingan itu, aku bisa djuga bitjara tentang iblis-­iblis jang haus akan kurban, akan kaum invalid peng­hidupan dan kehidupan. Dan bila kurban-kurban dan kaum invalid penghidupan dan kehidupan ini merasa tak pernah dirugikan, itulah tanda jang tepat, bahwa iblis itu telah lakukan apa jang dinamai zakelijkheid dengan pintarnja. Dan bila iblis-iblis ini tetap apa jang biasa dinamai badjingan.

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan zakelijkheid!

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan kehidupan kesardjanaan! kepriajian dan perdagangan!

Sardjana adalah kompas kita, ke mana kita harus pergi mentjari pegangan dalam lalulintas kebendaan di kekinian dan dimasa-masa mendatang. Sardjanamu, sardjanaku, wartawanmu, wartawanku, politisimu, politisiku, melihat adanja kesumbangan, dan: titik, stop. Djuga seperti turis di dalam gelanggang kehidup­annja sendiri.

Barangkali, engkaupun akan menuduh mengapa aku tak berbuat lain daripada mereka. Tetapi akupun tahu, bahwa engkau tidak melupakan sjarat ini: ke­kuasaan. Kekuasaan ini akan ditelan lahap-lahap oleh tiap orang, tetapi tidak tiap orang tahu tjaranja men­dapatkan dan menelannja. Sematjam kutjingmu sen­diri. Sekalipun sedjak lahir kauberi nasi tok, sekali waktu bila ditemukannja daging akan dilahapnja djuga. Djadi kau sekarang tahu segi-segi gelap dari ibukota kita ini. Segi-segi jang terang aku tak tahu samasekali, karena memang hal itu belum lagi diwahjukan kepada­ku, baik melalui inderaku jang lima-limanja ataupun jang keenam. Tetapi aku nasihatkan kepadamu, dalam masa kita ini, djanganlah tiap hal kauanggap mengan­dung kebenaran 100%, dengan menaksir duapuluh prosen pun kau kadang-kadang dihembalang keketje­waan. Djuga demikian halnja dengan uraianku ini.

Aku tahu, engkau seorang patriot dalam maksud dan djiwamu, karena engkau orang daerah jang djauh dari kegalauan kota besar, kumpulan besar dusun ini. Eng­kau akan berdjasa bila bisa membendung tiap orang jang hendak melahirkan diri dari daerahnja hendak memadatkan Djakarta. Tinggallah di daerahmu. Buat­lah usaha agar tempatmu mempunjai sekolah mene­ngah atas sebanjak mungkin. Dan buatlah tiap sekolah menengah atas itu mendjadi bunga bangsamu dike­mudianhari: djadi sumber kegiatan sosial, sumber ke­sedaran politik setjara ilmu, sumber kegiatan pentjip­taan dan latihan kerdja. Pernah aku beri tjeramah di kota kelahiranku dua tahun jang lalu: mobilisasilkan tiap murid ini untuk berbakti pada masjarakatnja, untuk beladjar berbakti, untuk membelokkannja daripada intelektualisme jang hanja mengetahui tanpa ketjakapan mempergunakan pengetahuannja. Apa ilmu pasti jang mereka terima itu bagi kehidupannja di kemudianhari bila tidak berguna ?

Djangan kausangka, aku hendak mendiktekan kema­uanku sendiri. Aku kira aku telah tjukup tua untuk menjatakan semua ini kepadamu—engkau jang ku­harapkan djadi pahlawan pembangun daerahmu. Djuga engkau ada merendahkan petani, karena engkau lahir dari golongan prijaji—pendjadjah petani sepandjang sedjarah pendjadjahan: Djepang, Belanda, Inggris, Mataram, Madjapahit, Sriwidjaja, Mataram dan kera­djaan-keradjaan perompak ketjil jang tidak mempunjai tempat chusus di dalam sedjarah.

Kawan, sebenarnja revolusi kita harus melahirkan satu bangsa baru, bangsa jang nomogeen, bangsa jang bisa menjalurkan kekuasaan itu sehingga mendjadi tenaga pentjipta raksasa, dan bukan menjerbit-njerbit­nja dan melahapnja sehingga habis sampai pada kita, pada rakjat jang ketjil ini. Dari dulu aku telah bilang kekuasaan dan kewibawaan kandas di tangan para petugas. Petugas jang benar-benar pada tempatnja hanja sedikit, dan suaranja biasa habis punah ditelan agitasi politik — sekalipun tiap orang tahu ini bukan masa agitasi lagi, kalau menjadari gentingnja situasi tanah­airnja dalam lalulintas sedjarah dunia !

Kita mesti kerdja.

Tetapi apa jang mesti kita kerdjakan, bila mereka jang kerdja tak mendapat penghargaan dan hasil seba­gaimana mesti ia terima ?

Aku kira takkan habis-habisnja ngomong tentang Djakarta kita, pusat pemerintahan nasional kita ini. Setidak-tidaknja aku amat berharap pada kau, orang daerah, orang pedalaman, bakar habis keinginan ke Djakarta untuk menambah djumlah tugu kegagalan revolusi kita. Bangunkan daerahmu sendiri. Apakah karena itu engkau djadi federalis, aku tak hiraukan lagi. Dulu sungguh mengagetkan hatiku mendengar bisikan orang pada telingaku: mana jang lebih penting, kemer­dekaan ataukah persatuan? Dan kuanggap bisikan ini sebagai benih-benih federalisme. Aku tak hiraukan lagi apakah federalisme setjara sadar dianggap djuga se­bagai kedjahatan atau tidak! Setidak-tidaknja aku tetap berharap kepadamu, bangunkan daerahmu sendiri. Tak ada gunanja kau melantjong ke ibukota untuk men­tjontoh kefatalan di sini.

Kawan, sekianlah.

Djakarta, 17-XII-1955.
By: Pramoedya Ananta Toer

(Cerita ulang tahun untuk sahabat Bob Hering)


Ada sidikjari, tapi jarang disebut tentang sidikwajah. Dan tailalat tak lain dari bagian sidikmuka. Yang akan kuceritakan padamu bukan tailalat tunggal, tapi kembar, simetrik mengapit batang hidung. Dan itulah satu-satunya yang pernah kulihat dalam hidupku. Awal tahun 1946.

Sebagai pembantu-letnan aku mendapat perintah mengerahkan seksiku menyambut kedatangan serombongan tamu. Di stasiun Cikampek. Hari, tanggal, dan bulan, sudah tak dapat kuingat, setidak-tidaknya sekitar jam 10 pagi.

Keretapi dari Jakarta masuk. Tak ada rombongan tamu yang turun berbondong dari kereta api. Penumpang-penumpang lain turun dan segera meninggalkan perron. Seorang-dua turun, berdiri tenang-tenang di samping gerbong. Salah seorang kudekati. Nah, itulah, tailalat kembar mengapit batang hidungnya, hidung pribumi asli.

“Dari Jakarta, Pak?”, ia hanya tersenyum manis. “Mau ke mana?”

“Yogya.”

“Dalam rombongan?”

“Tidak salah.”

“Tujuan?” ia awasi senjatapi pada pinggangku, mengangguk-angguk, kemudian menepuk-nepuk punggungku.

“Indah ya, sangat indah, usia muda, semua bisa menangani,” ia mengangguk-angguk ria, “bagus, teruskan apa yang telah kami gagal melakukan. Dulu.”

“Apa yang telah gagal Bapak lakukan?”

“Berontak untuk merdeka. Dan kalian, anak-anak muda, sudah bikin tanahair ini merdeka. Tinggal mempertahankan dan mengisinya.”

Mendadak ia menyerang aku dengan pelukan dan ciuman. Keramahannya lenyap. Kurasai airmata menetesi wajahku. Peluit kepala setasiun mengatasi suara hiruk-pikuk setasiun.

“Kami dari rombongan Digulis, dari Australia. Selamat, nak, selamat, kita akan bertemu di tempat lain.”

Ia ciumi lagi aku. Menepuk bahuku, dan melompat naik ke dalam gerbong. Kereta berangkat. Belum lagi sempat kuketahui namanya....

Kembali ke markas resimen kulaporkan, tugas telah selesai kulakukan. Mayorku bangkit dari kursi, melotot, hanya tidak membentak:

“Goblok. Tugas segampang itu tidak mampu kau lakukan. Belajar kau menghargai para pejuang. Selesai!”

Setelah memberi hormat dan balik-kanan-jalan terdengar bentakan dalam diriku sendiri: Goblok! Sebelumnya tak kau katakan, kan, siapa mereka? Tempat tujuan juga bukan Cikampek, kan? Yogya! Ai, bapak tailalat kembar.

Dua puluh tahun telah lewat. Sekarang bukan di medan bebas, apalagi mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Sekarang di rutan, rumah tahanan. Salemba di Jakarta.

Sekali di bulan November 1966 datang rombongan tahanan baru, pindahan dari penjara Cipinang, Jakarta juga. Barang tujuh orang. Ha? Salah seorang bertailalat kembar, mengapit batang hidung. Dia? Tak semudah itu menjawab tekateki itu. Pribadi dan rombongan baru harus menjalani kucilan. Sampai berapa hari atau minggu, itu tergantung para penguasa penjara. Nyatanya ia dan rombongannya mendekam di blok E, blok hukuman untuk tapol. Dari blok K, tempatku dikurung, setiap hari kulihat ia dan rombongannya digiring keluar blok E ke ruang pemeriksaan. Bila balik ke bloknya ada saja di antara mereka yang terpincang-pincang, atau dipapah, atau dengan muka lebam, atau mencekam bagian-bagian tubuh yang habis jadi landasan benda tumpul. Dan si tailalat kembar? Sekali waktu terlihat ia kembali ke blok dengan menyeret kaki kanannya. Pemandangan biasa.

Berapa umurnya? Dalam duapuluh tahun belakangan ini memang ada sejumlah tulisan tentang Digul yang kubaca. Jadi kuperkirakan ia dibuang ke Digul dan Australia selama 13 tahun, jadi 43 usianya. Ditambah dengan 20 tahun masa kemerdekaan nasional dan ketiadaan kemerdekaan pribadi sekarang jadi 63 tahun. Patut kalau kekuatannya tidak seutuh tahun 1946 dulu.

Tetap tidak semudah itu menemuinya. Memang semua tapol berhimpun sewaktu appel. Barisan-barisan yang disusun menurut blok masing-masing membuat orang sulit dapat bertemu dengan orang dari blok lain. Setelah appel selesai barisan kembali ke blok masing-masing.

Sebulan kemudian ia dipindahkan dari blok E ke blok L, bersebelahan dengan blokku. Tiga hari kemudian masih juga tak dapat aku bicara dengannya. Pada hari keempat ia meninggalkan blok L menuju ke ruang pemeriksaan.

Sengaja aku tunggu ia pulang. Umur 63 tahun. Dan penganiayaan apa lagi harus ia deritakan?

Ha? Ia pulang ke blok tanpa cedera. Wajahnya ceria, dan, tersenyum panjang, mata nyapu tanah. Sebelum memasuki blok ia tebarkan pandang ke seluruh dan semua blok yang mengelilingi tanah lapang penjara.

Ha? Seorang petugas datang ke bloknya dan membawanya ke kantor pimpinan penjara. Dan sejak itu ia tak pernah kelihatan lagi. Pindah ke penjara lain? Mungkin dibebaskan karena usianya yang sudah lanjut. Mungkin.... Nyatanya tidak. Seorang tapol blok L yang dipindahkan ke blok K jadi saksi karena ia termasuk rombongan yang dipindahkan kemari dari penjara Cipinang.

Si tailalat kembar punya pendapat: ia tak punya kepercayaan pada daya administrasi tuan-tuan baru ini. Ia hendak menguji ketidakpercayaannya. Setelah dipindahkan ke blok L, waktu selesai appel, ia minta pada petugas supaya diinterogasi, karena, katanya, ia belum pernah diperiksa selama ini. Itu sebabnya ia keluar dari bloknya, sendirian, ke ruang permeriksaan. Di sana ia menggunakan nama lain, dan, mengaku pekerjaannya mencari beling di sampahan. (Waktu itu belum dipergunakan kata: pemulung). Ia lulus ujian: punya nama lain dan bebas.

Setelah itu tak ada kabar-beritanya. Seluruh dan semua tapol sibuk dengan kelaparan masing-masing. Tanpa diduga ulah si tailalat membangkitkan inspirasi pada tapol-tapol muda lain. Dengan diam-diam tentu. Dan, tiga tapol muda suatu hari lolos melarikan diri. Seorang di antaranya nampaknya anak Jakarta yang tak pernah keluar dari kotanya. Ia kedapatan sedang nongkrong di pinggir jalan raya menjajakan durian dalam dua keranjang bambu. Tertangkap, dan masuk lagi ke rutan Salemba. Tentu saja setelah melewati penganiayaan. Beberapa lainnya yang dipindahkan ke penjara di Tangerang, juga melarikan diri dan tak pernah tertangkap.

Kemudian seorang lagi melarikan diri melalui gorong-gorong. Waktu selnya diperiksa kedapatan beberapa lembar kertas bertuliskan tangan. Karena soalnya tulisan aku yang dipanggil untuk menjalani pemeriksaan.

Tulis apa saja maunya, perintah petugas di kantor pimpinan rutan. Ia berikan beberapa lembar kertas dan ballpoint. Aku menulis apa saja. Tulisan tegak, perintahnya. Waktu ia datang lagi perintahnya berubah: tulisan miring. Setelah itu: tulisan bebas. Dan akhirnya: cukup! Aku boleh kembali ke blok. Tidak ada apa-apa lagi. Artinya: miring, tegak, atau pun bebas, tulisan yang tertinggal di sel pelarian itu tak ada kesamaannya dengan tulisan tanganku.

Juli 1969 tapol Salemba dipindahkan ke Nusa Kambangan. Sebulan kemudian dikapalkan ke Buru. Dalam kapal para tapol dari seluruh penjara di Jawa dapat bertemu dan berkenalan. Seorang dari Pacitan nampaknuya berminat untuk berkenalan. Sidikwajahnya bukan tailalat. Hanya garis lurus dari ujung atas telinga sampai dagu. Bekas sayatan senjata tajam. Yang seperti itu bukan sesuatu untuk dibicarakan manusia tapol-nya tuan-tuan baru. Setiap orang telah diberi ijasah bekas luka. Dalam masa kerjapaksa di Buru ia menempati Unit I, aku III. Jadi hanya sekali-dua kami dapat bertemu sampai 1978 atau 9 tahun kerjapaksa. Pada tahun itu ia dibebaskan. Dan karena sidikwajahnya ia tidak memilih Pacitan sebagai tempat tinggal, tapi Jakarta.

Tiga tahun setelah aku sendiri dibebaskan dari Buru pada 1979 akhir tanpa kuduga aku bertemu dengan teman dari Pacitan itu. Sekitar hampir jam 5 pagi. Jalan-jalan masih senyap. Yang lalu-lalang hanya sejumlah pelari pagi, termasuk tubuhku. Seorang pemulung sedang duduk di bangku beton menghadapi keranjang sampahnya. Ia tersenyum ramah waktu kudekati. Dan kata-katanya yang mengiris jantungku terdengar.

“Maaf, untuk orang seperti aku ini tidak memerlukan lari pagi.”

Ia harus kerja maka pembicaraan panjang membuatnya gelisah. Dan ternyata ia tinggal di ladang sampah Jalan Raya Pramuka. Sebuah kotak triplek dan seng adalah rumahnya, ditinggalinya bersama seorang kakek, juga pemulung. Hanya beberapa ratus meter dari halte bus tempat kami bercengkerama.

“Kakek lebih siang berangkatnya. Jera digonggong dan disalaki anjing dalam kesepian subuh. Tahu apa dia bilang tentang anjing Jakarta? Kesadaran klasnya cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari tuannya, semua para tuan.”

“Dia bekas tapol?”

“Ya, tapol Salemba, katanya. Lolos pada tahun kedua, katanya.”

“Hari libur sajalah,” kataku. Aku sodorkan uang penggantinya.

Ia nampak agak tenang. Memang tak kutunggu ucapan terima kasihnya yang memang tak pernah ia ucapkan.

“Ia juga dari Pacitan?”

“Bukan, Kebumen.”

“Siapa namanya?”

“Namanya tidak penting. Jangan dibikin dia jadi lebih sulit lagi. Lebih dari tiga perempat hidupnya dia jadi sasaran penindasan.”

“Kalau tertindas lebih dari tiga perempat hidupnya artinya dia bekas Digulis.”

Ia pura-pura tidak dengar.

“Mari sarapan di rumahku.”

“Terimakasih banyak. Lebih baik jangan.”

“Atau kita ke rumahmu? Kan dekat saja?”

“Perjanjian antar kami, aku dan kakek: tidak menerima tamu siapa pun.”

“Mengerti, mengerti. Kalian memang perlu mencurigai siapa pun.”

“Jangankan orang-orang seperti kami. Pemuda-pemuda yang menyorong kemungkinan Proklamasi saja, di mana mereka semua sekarang? Hanya satu saja yang lolos, pernah jadi wakil presiden pula. Dan proklamatornya sendiri, bagaimana pula nasibnya?”

Ia keluarkan uang pemberian dari saku, menghitungnya, dan separoh ia kembalikan.

“Silakan teruskan lari pagi.”

“Satu pertanyaan lagi: apa si kakek punya tailalat di kiri dan kanan batang hidungnya?”

Dalam keremangan subuh nampak ia melotot, suaranya parau: “Jadi bung kenal dia? Maaf saja, lupakan pertemuan ini. Anggap tak pernah terjadi.”

Ia bangkit dan pergi dengan keranjang sampah dari bambu tergantung di belakang punggung.

Tepat jam 10 pagi setelah membaca koran dan menyelesaikan kerja kliping, aku bergegas setengah lari ke ladang sampah jalan raya Pramuka. Ada beberapa kotak triplek dan seng. Satu di antaranya dalam keadaan terbalik. Sikap teman Pacitan itu memberi petunjuk, kotak terbalik itulah rumahnya bersama si kakek. Mereka memang tak mau ditemui dan dikenal.

Dia tak ingin dikenal oleh siapa pun. Baiklah. Maafkan aku. Dan tidak lebih dari sebulan kemudian lewat di depan rumahku seorang pemulung muda, dengan keranjang bambu pada punggung dan besi beton pembalik sampah pada tangan kanannya. Ia berjalan bimbang dengan pandangan menyisiri pinggiran jalan tempat parade tong dan kotak sampah pemukiman. Lain dari para pemulung lain ia berpakaian sobek-sobek dan dekil. Buru-buru aku masuk rumah, mengambil keranjang tempat pakaian bekas dan kuberikan padanya.

“Terimakasih,” ia membungkuk dan pergi membawa keranjang tsb. Sorehari waktu aku membersihkan belakang rumah... ya ampun, keranjang beserta pakaian bekas kami tergeletak di situ. Tak pernah dalam hidupku aku menderita malu seperti ini. Malu: tak mengerti si pemulung tak membutuhkan pakaian bekas. Pakaiannya yang dekil dan sobek-sobek mungkin semacam seragam harian sebagai pemulung. Bukan karena tak punya pakaian! Betapa aku tak tahu duduk perkara sekecil itu! Tak kuat menanggung malu maka kuberitakan pengalaman ini pada seorang sahabat, seorang professor emeritus di seberang lautan. Perasaan malu itu memang mereda, namun tetap mengganggu bila teringat. Jadi, tahu apa kau sebenarnya tentang rakyatmu? Dan semua ini hanya gara-gara teman pemulung dari Pacitan itu.

Nyatanya cerita ini belum habis sampai di sini.

Seorang teman bersama temannya mengajak ke lapangan setir mobil. Temannya adalah instruktur setir mobil. Seperti biasa bicaranya tak terkendali, riuh, dengan tangan, kepala, bahkan kaki memberi tekanan pada suaranya, dan semburan percikan ludahnya menggerimisi wajah lawan-bicaranya.

“Ayohlah,” katanya, “kalahkan traumamu. Dia cuma mobil, tak perlu ada trauma menyopir.”

Memang pernah kuceritakan padanya, dalam bulan pertama pulang dari Buru aku mendapat mobil Datsun. Kubawa seorang instruktur untuk membiasakan menyopir. Maklum sudah puluhan tahun tak pernah pegang kemudi. Waktu Jepang menyerah mobil bergeletakan sepanjang jalan. Siapa pun boleh ambil untuk dirinya asal punya bensin. Seorang pesakitan Cipinang dalam masa kosong kekuasaan membebaskan diri bersama yang lain-lain. Nampaknya ia bekas kriminal berat, pindahan dari penjara Kutaraja, Aceh. Sudah tak dapat kuingat namanya, juga tak kuingat bagaimana kami berkenalan. Dialah, entah bagaimana, bisa mendapatkan bensin. Sebuah Willys Cabriolet ia isi tangkinya. Mesinnya ternyata bagus. Mari, Bung, katanya, belajar nyetir. Kami keliling kota. Beberapa hari kemudian aku telah dapat mengendalikan kereta ajaib itu. Setelah ia yakin aku bisa mengendarainya, wut!, ia hilang tak jelas rimbanya. Dan tak pernah berjumpa lagi. Mobil itu sendiri kemudian juga hilang tak jelas rimbanya waktu kuparkir di pinggir jalan di samping rumah, salahnya bensin dalam tangkinya.

Ini hanya cerita bahwa memang ada pengalaman menyopir padaku. Nampaknya pengalaman secuwil itu membikin aku terlalu percaya diri. Instruktur di sampingku hampir-hampir tak kugubris. Datsun berputar entah berapa puluh kali mengelilingi lapangan.

“Sekarang mundur,” perintahnya.

Waktu itulah kaki tak tahu diri. Yang seharusnya rem diinjaknya, justru gas yang kena. Dalam keadaan mundur kencang pantat mobil menubruk warung dan mesin mati. Wanita penjaga warung yang duduk di bangku kayu, pucat, tak bisa bicara. Seorang polisi lalulintas, yang mengawasi lapangan, lari mendapatkan kami. Dalam keadaan terguncang aku keluar dari mobil. Juga sang instruktur.

Dengan wajah keras ia perintahkan aku memperlihatkan surat-surat kendaraan, dan tentu saja KTP. Matanya melompat-lompat dari kertas-kertas di tangannya pada wajahku. Kemudian, kemudian sekali, mata itu ditujukan pada kakiku.

O, bapak, katanya. Lama sudah kukenal, baru sekali bertemu orangnya. Ia angkat tangan kanannya memberi hormat. Dan sesuai engan tradisi militer Jepang aku membungkuk membalas. Begini saja, ya pak, ganti saja kerugiannya.

Pemilik (atau penjaga) warung itu masih duduk kaku. Maaf, bu, mari kami bawa ke rumahsakit. Ia menggeleng. Seorang lelaki datang dan menengahi. Biar aku sendiri antarkan dia ke dokter. Barangkali suaminya.

Aku berikan kartu namaku. Ganti rugi dan ongkos dokter harap diambil pada alamat ini, kataku. Cukup, pak polisi? Kataku.

Ia mengangguk. Aku salami lelaki itu dan minta maaf. Ia mengangguk. Juga kuularkan tangan pada wanita itu. Kurasai tangannya menggigil.

Trauma nyopir itu begitu mendalamnya sehingga dalam mobil teman dan temannya aku masih tetap waswas, kalah terhadap perasaan sendiri. Tak mampu melihat kembali wanita penjaga warung yang seperti patung batu karena kagetnya. Sebelum mobil memasuki gerbang lapangan latihan nyopir mobil melewati seorang pemulung. Benar, dia teman dari Pacitan dengan sidikwajahnya yang abadi. Keranjang bambu tidak lagi pada punggungnya. Ia berjalan santai menghela gerobak. Di atas tumpukan sampah, tua tanpa daya, kakek dengan tailalat kembarnya.

“Stop!” kupinta pada teman. “Turun sini. Nanti aku pulang sendiri.”

“Masih juga groggy? Trauma tak kunjung habis?”

Tanpa menjawab aku turun, berhenti di pinggir jalan menunggu sejoli ex tapol itu lewat. Dan matahari sudah mulai terasa terik.

“Ai-ai,” tegurku.

Ia berhenti. Tangan tetap memegangi boom gerobak. Dan ia tersenyum. Kakek di atas sampah dalam terobak asyik membaca koran. Bukan tekateki dari mana ia dapatkan kacamata. Sampah memberikan segala-galanya.

“Sudah makan?”

“Nanti sudah.” Nampaknya ia lebih ramah daripada dalam pertemuan di halte bus dulu. Lima kilometer dari tempat ini. Waktu hendak menegur si kakek ia melarang. “Sama sekali tak ada gunanya. Tuli sepenuh tuli.” Ia pinggirkan gerobaknya dan dengan sangat hati-hati menyandarkan boom gerobaknya di atas bibir jambang bung dari beton.

Kakek sama sekali tak memperhatikan kami.

“Lalu apa yang dibacanya?”

“Semua, kecuali iklan penawaran. Yang terpenting baginya iklan jenis lain. Bukan iklan penawaran. Iklan kematian.”

“Ha?”

“Jangan ganggu dia. Lihat saja. Ya, ia sedang membaca iklan kesukaannya. Perhatikan airmukanya.”

Memang kuperhatikan. Ternyata selain berkacamata ia juga menggunakan kaca pembesar di tangan kiri. Jelas pipinya yang sudah kempot itu sedang tersenyum.

“Tersenyum, kan? Itu tanda yang meninggal jauh lebih muda dari dirinya. Kalau dengan geleng-geleng kepala itu tanda yang mati berumur di bawah tiga puluh. Bila ia tercenung tanpa gerak wajah yang mati berumur sekitar seratus tahun.”

“Luar biasa. Betapa kau kenali dia.”

“Sehari-harian aku bersama dia. Berak pun aku yang mengurus.”

Sekarang aku yang tercenung. Mataku berkaca-kaca. Betapa tinggi setiakawan anak Pacitan ini. Suaraku tersekat di tenggorokan waktu aku mencoba bertanya berapa umurnya.

“Dua-tiga tahun lagi dia akan melewati seratus. Seperti itu, dan masih tetap jadi landasan penindasan. Hanya agar beberapa sang gelintir bisa hidup kaya, terlalu kaya, mewah dan berkuasa.”

“Stt!”

“Ya, begini kami. Bung memang bukan bagian dari kami.” Ia angkat boom gerobaknya dan meneruskan perjalanannya. Ia tak mengharapkan percakapan berlanjut. Dan ia berjalan terus tanpa menoleh. Kakek dari Kebumen masih tetap membaca koran bekas. Mereka hilang di tikungan. Tak ada guna mengikuti. Teman Pacitan itu tak ingin diketahui tempat tinggalnya.

Cerita ini mestinya selesai sampai di sini. Nyatanya cerita ini belum mampu mengakhiri dirinya sendiri.

Waktu menggelinding begitu cepatnya. Indonesia, katanya, telah setengah abad merdeka. Memang bukan kemerdekaan bagi orang-orang seperti kami, karena kami hanya batu-batu kerikil buat fondasi kemerdekaan. Tempat kami tetap dalam fondasi. Kemerdekaan itu sendiri tumbuh dan berkembang tanpa pernah mengidahkan fondasinya sendiri.

Limapuluh tahun merdeka pun telah lewat beberapa bulan. Waktu itulah pandangku nanar menggerayangi wajah teman Pacitan, menelusuri bekas sodetan senjata tajam dari telinga sampai dagunya. Memang dia. Seongggok tubuh yang duduk menggelesot di atas lantai stasiun Kota. Ia tak mengenakan seragam pemulung yang sobek-sobek dan dekil. Bahkan rambutnya pun kelimis bersisir. Di atas lantai stasiun memang ada tong-tong sampah, tapi keranjang bambu dan gerobak sampah tidak ada. Lantai kelihatan bersih. Juga tak ada di halaman stasiun. Jadi apa sekarang kerjanya?

Ia tak menyadari sedang aku perhatikan. Kuikuti pandangannya yang berpindah-pindah. Ternyata ia sedang memperhatikan beberapa bocah sedang bekerja menyikat sepatu para calon penumpang keretapi. Kemudian aku duduk di dekatnya di atas lantai. Ia menengok padaku dengan pandang curiga. Kaki dan tangannya disiapkannya untuk bertarung. Tiba-tiba:

“Oh, bung!”

“Mana gerobaknya?”

“Biasa. Dirampas.”

“Dirampas siapa?”

“Siapa lagi?” Dan aku mengangguk mengerti. “Hanya gerobak, kan? Barang sepuluh tahun lalu kusaksikan becak dirampasi. Jerih payah bertahun orang menyisakan rejekinya untuk dapat memilikinya. Jadi rumpon di teluk Jakarta. Tanpa ganti rugi. Eh, buat apa kuungkit? Semua orang tahu.” Aku mengangguk.

Kutebarkan pandang ke luar stasiun. Memang dia tidak menggerutut, namun nada suaranya begitu menyakitinya. Kalimat apa yang selanjutnya diucapkannya aku tak dengar. Pandangku membawaku ke masa empatpuluh delapan tahun yang lalu. Sebagai tapolnya Belanda kami membabati alang-alang sekitar stasiun ini sampai ke pelabuhan Tanjungpriok. Ke selatan sampai ke lapangan Gambir. Dan istana kolonial di Gambir itu sekarang dinamai Istana Merdeka. Waktu pandangku tertebar ke ruang dalam stasiun dengan sendirinya tergambar kembali secercah hidup tigapuluh lima tahun lalu. Dengan beberapa teman kami hendak menghadiri Konferensi Sastra Jawa di Solo. Sedang santai berdiri menunggu keretapi masuk mulutku, mulutku ini, memekik: copet! Seseorang lari sambil menarik belati, kemudian menghilang entah ke mana. Teman yang juga akan menghadiri konferensi itu menghentikan teriakanku sambil memberikan arjoliku.

“Jadi kau masih sempat memikirkan orang-orang seperti kami?” Ia menegur.

“Mana kakekmu?”

“Kakek? Ia sudah tak membaca koran lagi. Juga tak naik gerobak lagi. Tak akan lagi. Sejak dua bulan lalu. Mati, bung, waktu gubuk-gubuk kami diobrak-obrak buat diubah jadi gedung pencakar langit. Dalam suasana tergusur kami, rumpun pemulung mengantarkannya ke lahatnya. Tak perlu sentimen-sentimenanlah. Orang-orang seperti kita yang paling banyak membiayai pembangunannya para hartawan dan kuasawan.”

“Ya, biarpun nama tidak pernah masuk buku mereka.”

“Primitif. Semakin lama semakin primitif. Primitif! Itu umpatan kakek bila menilai keadaan. Pembangunan? Jalan-jalan hanya untuk yang bermobil. Pejalan kaki pun tak berhak menggunakannya. Di tanahair sendiri. Tanpa kaki lima. Primitif, itu umpatannya. Immoral, immoral. Dia tak butuhkan tanggapan orang lain. Usia telah merampas pendengarannya. Primitif! Immoral! Dan setiap matanya menangkap jambang-jambang beton di kakilima, apa dengusnya? Jambang di kakilima... tambahan isi kantong mereka, dari kantong semua, demi untuk menghadang kita... sepertinya dia sedang berpantun. Kalau cuma begitu saja, dengusnya sepanjang jalan, puih, gampang amat jadi immoral, semakin lama semakin primitif!”

Panjangnya omongannya kali ini membuat perhatianku pada kakek tailalat justru jadi padam.

“Jadi, apa kegiatan bung sekarang?”

“Lihat anak-anak penyikat dan penyemir sepatu itu?” kembali matanya gentayangan pada mereka. “Masih di jalur lama, bung, membina mereka. Mengajari mereka baca-tulis. Yang lebih penting: melindungi mereka dari ulah mafia, bocah-bocah berandalan, bocah-bocah jalanan juga, yang memeras mereka.”

“Mereka takut pada bung?”

“Tanda ini,” ia mengusap bekas senjata tajam pada wajahnya, “membuat mereka takut. Tanda ini mereka anggap sebagai ijasah keganasanku. Mudah bagi bung memahami dunia primitif begini, kan? Akhirnya aku ketularan kakek juga: primitif! Primitif!”

“Nampaknya sekarang bung lebih ramah padaku.”

“Setidak-tidaknya kakek tidak lebih terluka karena mulutku.”

“Dia tak pernah tanya tentang buangan di Buru?”

“Ya, waktu masih bisa dengar sedikit-sedikit. Juga kuceritakan di Buru juga ada bekas Digulis, tapol tertua, dengan hanya satu harapan: mati dan dikuburkan di Jawa. Dia termasuk rombongan pertama yang dibebaskan. Harapannya hanya separoh terpenuhi: dikuburkan di Jawa memang, tapi mati waktu kapal belum lagi merapat di Tanjungperak.”

Di antara lalulalang pasang-pasang kaki, lelaki dan perempuan, suling kereta dan hiruk-pikuk pekerja pengangkut barang, muncul seorang bocah. Tanpa bicara ia sodorkan dua teh botol dingin pada kami.

Teman dari Pacitan itu menghapus matanya. Dan:

“Tanpa didikan orangtua — memang dia tak punya — tanpa disuruh, sebagian rejeki pagi ia suguhkan pada kita.”

“Nampaknya bung memang dicintai mereka,” dan nampaknya ia terharu atas pujian itu. “Memang cuma teh botol, setidak-tidaknya bung telah mulai menuai yang bung tebarkan.” Ia masih terdiam. “Jangan membisu terlalu lama. Kata-katamu tentang kakek penting bagiku. Memang cuma kata-kata, kita hanya bisa ngomong, lebih tidak. Tapi kata-kata, dengan kekuatannya yang khusus, akan mengembara dari kuping ke kuping, dan akan hidup selama-lamanya, selama ummat manusia tidak menjadi tuli semuanya. Dan biar pun tuli mendadak semua, kan masih ada pemahat, pematung, pelukis, dan pengarang, yang tanpa berucap bisa mengatakan?”

“Kursus bung terlalu bertele.”

“Pembisuan bung terlalu bertele.”

Ia nikmati teh botolnya dengan pipa penyedot. Dan botolku sudah kosong.

“Waktu ia cukup mengerti, di Buru kita dikenakan kerjapaksa sambil cari makan sendiri, kalau sakit obat-obatan pun harus beli sendiri kontan menyembur sumpah-serapahnya: primitif! primitif. Hanya otak primitif mampu buat aturan seperti itu.”

Pustaka tentang Digul membuat kepalaku terangguk-angguk. Ya, para Digulis dijamin makannya setiap bulan. Yang sakit mendapat perawatan lebih baik daripada di Jawa. Dan asal mereka mau bekerja di ladang, mereka dapat sepuluh sen setiap jam, setara tiga kilogram beras. Yang bersedia kerja dalam mesin kolonial lebih banyak lagi dapatnya.

“Dan tanpa pengadilan,” ia teruskan semburan kata kakek tailalat, “belasan tahun tanpa pengadilan. Semasa kolonial, 3 hari ditahan tanpa perkara jelas sudah bisa menuntut ganti rugi. Dibunuhi pula, malah tanpa ada komisi penyelidikan. Otak primitif. Diharuskan hafal Pancasila lagi. Di Digul, aparat kolonial itu menghormati pendirian dan sikap politik dan pribadi para buangan. Primitif! Primitif!”

“Stop. Setidaknya aku sudah mulai banyak tahu tentang kakek yang tak pernah mengenalku.”

Ia habiskan teh botol di tangannya. Dan bocah penyikat sepatu itu datang lagi mengambil botol-botol kosong.

“Boleh aku menengok kuburan kakek?”

“Tak usahlah. Seratus tahun, satu abad jadi landasan penindasan. Jangan, jangan ganggu dia. Kau takkan tahu tempatnya.”

Tiba-tiba ia melompat bangun, berjalan cepat menuju ke suatu pilar stasiun. Dari gerak tangannya nampak ia sedang mengusir seorang pemuda berkuncir berseragam jean. Dan pemuda yang diusirnya tidak langsung pergi. Dari gerak tangannya nampak ia mengancam. Teman dari Pacitan itu mengangguk menerima tantangannya. Setelah lawan-bicaranya pergi baru ia kembali menghampiri.

“Bung sendirian. Bagaimana kalau dia membawa teman-temannya?”

“Mereka dibuat primitif oleh keadaan. Kalau toh kalah dan mati, setidak-tidaknya terhormat sebagai warganegara Indonesia.”

Ia ulurkan tangannya memberi salam dan pergi.



Jakarta, 10 Juli 1996